Medsos dan Anak

Ilustrasi.(Foto : Netralnews)

Ilustrasi.(Foto : Netralnews)


Pewarta

Editor

Redaksi


Pertanyaan datang dari seorang siswi di sesi tanya jawab setelah saya memaparkan materi “Analisa Sosial di Era Media Sosial” dalam kegiatan LDK (Latihan Dasar Kepemimpinan) di SMAN 2 Trenggalek. Dalam pemaparan saya menyajikan data tentang penggunaan medsos di usia 10 sampai usia tua paling banyak menggunakan media sosial yang apa dan kepentingannya untuk apa.

Yang ditanyakan adalah bagaimana dengan medsos untuk anak-anak yang di bawah usia 10 tahun yang dalam penelitian yang saya paparkan tidak disebutkan. “Pada hal saya menjumpai sendiri bahwa anak-anak kecil mulai balita saja juga sudah keranjingan akan ‘gadget’ dan bahkan tak bisa lepas darinya”, katanya. Ia bertanya, bagaimana kita menyikapi hal tersebut?

Saya  menawarkan dua pilihan saja. Pertama, bisa anak-anak dilarang tak boleh pegang gadget sama sekali. Kedua, boleh pegang gadget tapi dikawal. Yang kedua ini tentu saja jika kita memang kita sudah tidak bisa melarang anak untuk pegang gadget. Yang terbaik memang tetap yang pertama.

Tapi saya mengajukan dua alternatif itu karena saya sendiri tidak bisa lepas dari gadget. Dan saya juga tidak melihat bahwa media sosial  itu semata-mata sebagai  sesuatu yang sama sekali tidak ada gunanya. 

Saya mencontohkan bagaimana saya juga tidak bisa mencegah anak saya untuk pinjam ‘smartphone’ saya. Meskipun demikian, saya tak akan membiarkan anak saya dalam hari-harinya habis untuk ‘gadget’. Anak saya setengah hari lebih pasti tanpa ‘gadget’ karena sekolah agak ‘fullday’, dan satunya malah ‘fullday’.

Anak saya rerata tidurnya jam 8-9 malam. Praktis, di luar sekolah dan tidur, sehari rata-rata punya waktu 7 jam. Saya biasanya pulang kerja menjelang magrib. Praktis antara hari senin sampai jumat, ada sekitar 4 jam interaksi saya dengan dua anak lelaki itu. Kalau ibunya mungkin agak lama karena pulangnya ratarata pukul dua atau tiga. Saat belum bersama kami, ia ditemani Eyangnya atau tantenya.

Waktunya di rumah agak banyak ketika di sekolah. Di luar itu, jika saya bersamanya, sayapun kadang juga tergoda untuk bermain gadget. Tak jarang kebiasaan saya memegang ‘gadget’ ketika sudah di rumah atau saat anak belum tidur mendapatkan reaksi dari istri. Saya disuruh naruh gadget saya. Saya disuruh nemani anak belajar.

Terus terang, tidak selalu kami bisa melarang anak menaruh ‘gadget’-nya. Pun tidak selalu saya berhasil lepas dari ‘gadget’ saat anak masih belum tidur. Biasanya saya sembunyi di tempat lain agar tidak kelihatan anak, sementara istri saya menemani anak-anak. Misalnya saya naik tangga dan main ‘gadget’ di lantai atas (atas rumah).

Yang kami lakukan tiap hari tentu saja adalah terus mengingatkan agar ‘gadget’ tidak terlalu banyak dimainkan di rumah. Tapi memang tak selalu berhasil. Kadang ketika saya harus melakukan  pekerjaan rumah dan istri juga, anak-anak bertengkar  dan main yang agak membahayakan. Makanya, sering pula ‘gadget’ adalah salah satu cara agar mereka bisa tenang dan duduk diam, kadang sendiri sendiri, kadang satu gadget dipakai berdua.

Sejauh ini, yang ditonton anak-anak memang sebatas tayangan di Youtube yang jelek adalah film kartun semacam Doraemon, Ultraman (yang paling disuka Marco). Yang paling jelek adalah nonton film hantu-hantuan, itu yang kalau kami tahu langsung kami larang karena efeknya mereka jadi takut bahkan untuk sekedar ke dapur atau ke kamar mandi. Lainnya adalah ‘game’ yang bahkan saya tak tahu darimana ‘download’-nya.

Yang ternyata juga sering dilihat adalah “channel-channel” yang berisi pengetahuan seperti “Calon Sarjana”, ada juga lagu lagu yang menyebut kosakata kosakata yang menambah pengetahuan seperti “Parodi Sayur Kol”. 

Misalnya lagu lagu yang menyebutkan nama-nama negara, nama-nama Kabupaten/kota. Seringnya saya pergi ke berbagai kabupaten/kota yang berganti-ganti tempat ternyata juga membuat mereka semakin hafal nama-nama kabupaten yang disebutkan dalam lagu itu. Mereka juga sudah hafal nama-nama negara lain, selain negaranya.

Saat kita dampingi, kita juga bisa mengarahkan anak ke konten-konten yang menambah pengetahuan mereka. Nama-nama binatang. Planet-planet. Dan pelajaran-pelajaran sekolahpun juga bisa dilihat di Youtube. Di sinilah menurut saya keuntungan era medsos, bukan hanya dilihat sisi negatifnya semata.

Kosakata anak-anak era media sosial yang muncul memang beda dengan anak-anak dulu, termasuk saat saya masih kecil. Kata “dunlut”, “loding”, “yutub”, “laik”, “sabkreb” adalah istilah-istilah  yang sering keluar dari anak-anak sekarang, termasuk Hugo dan Marco.

Di sini, saya masih pada tataran pemikiran yang menganggap bahwa medsos bisa dijadikan sebagai teman sepanjang justru menambah wawasan. Memang, saya belum bisa mencegah anak-anak bermain gadget sama sekali. Dan kalau itu berhasil, maka harus ada kondisi lain yang seharusnya membuat anak-anak mendapatkan situasi permainan dan pembelajaran yang memang membuat dirinya berkembang baik.*

(Nurani Soyomukti, Penulis dan Pegiat Literasi. Lembah Gunung Jabung, Trenggalek, 08/10/2019)

Tag's Berita blitar berita blitar

End of content

No more pages to load