Koordinator Advokasi PC Fatayat NU Cabang Blitar, Muashomah.(Foto : Team BlitarTIMES)
Koordinator Advokasi PC Fatayat NU Cabang Blitar, Muashomah.(Foto : Team BlitarTIMES)

Melihat kehidupan perempuan di Kabupaten Blitar tidak terlepas dari keseriusan para pemangku kepentingan bersimpati kepada nasib perempuan. Indikator utama adalah sejauh mana anggaran daerah yang berpihak kepada upaya mensejahterakan perempuan. Sudah saatnya pemerintah daerah peduli dengan nasib perempuan. Demikian penjelasan dari Muashomah, Koordinator Advokasi PC Fatayat NU Cabang Blitar di kantor DPC PKB Kabupaten Blitar, Senin (20/01/2020).

Fatayat Cabang Blitar bergerak menjalankan amanah organisasi dengan gerakan kemandirian ekonomi  perempuan. Akan tetapi, jelas Muashomah, perlu dukungan baik regulasi maupun anggaran. Karena peduli dengan nasib perempuan berarti peduli dengan nasib bangsa.

‘Banyak pihak yang memandang bahwa pengangguran untuk perempuan tidak penting. Buktinya, APBD 2020 yang fokus dengan nasib perempuan ini jumlahnya sangat kecil, kurang dari 5%,” tandas Muashomah.

Muashomah menjelaskan bahwa sudah saatnya eksekutif dan yudikatif duduk bersama membangun komunikasi yang intens dengan kelompok perempuan agar keberlanjutan program yang berkenaan dengan kelompok perempuan bisa ditingkatan.

Muashomah berpendapat ada desk di fraksi DPRD Kabupaten Blitar, agar harapan, usulan, saran masyarakat lebih didengar. “Kalau ada usulan dari anggota fatayat pengurus cabang bisa meneruskan aspirasinya kepada pemerintah daerah,” tegasnya.

Menurut Muashomah sarannya ini tentunya akan dibarengi dengan sikap fatayat yang semakin mempertajam ruang geraknya. “Bagaimana agar fatayat lebih mandiri. Tidak tergantung dari pihak lain. Dan tentunya bisa membangun dasar bagi tumbuhnya perekonomian oleh perempuan untuk bangsa,” pungkasnya.(*)