Komunitas pecinta satwa dan lingkungan melepaskan berbagai macam hewan ke alam liar (Eko Arif/JatimTimes)
Komunitas pecinta satwa dan lingkungan melepaskan berbagai macam hewan ke alam liar (Eko Arif/JatimTimes)

Puluhan warga Desa Mlati, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri, yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Lingkungan dan Satwa Asli (Kopling) berupaya mengembalikan keseimbangan ekosistem lingkungan dengan cara melepaskan satwa predator atau musuh hama ke alam bebas. 

“Masyarakat Desa Mlati mayoritas bekerja pada sektor pertanian. Kurang lebih 80 persen. Masalah yang mereka hadapi selama ini adanya serangan hama tanaman. Kami memandang hal ini terjadi akibat ketidakseimbangan ekosistem. Populasi hewan pemangsa telah berkurang karena adanya perburuan secara liar,” kata Imam Saifudin, Ketua Kopling.

Baca Juga : Hasil Survei, dari 150 Orang, 50 Persen Masyarakat Kota Malang Paham Zero Waste 

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({}); 

 

Petani Desa Mlati dipusingkan oleh hama yang menyerang tanaman padi mereka. Mulai dari jenis ulat, belalang dan tikus. Petani pun tidak dapat menikmati hasil panen karena tersedot oleh besarnya biaya pengendalian hama secara kimiawi.  

Bermula dari kegalauan kaum petani tersebut, komunitas yang telah berdiri setahun terakhir ini menginisiasi upaya pengembalian ekosistem alami. Caranya dengan melapaskan satwa pemangsa hama. Dalam aksi kali ini melibatkan dari lintas komunitas, karang taruna, Kelompok Tani serta segenap aparatur Pemerintah Desa setempat. 

Dengan mengambil tempat di seputar areal persawahan desa, segenap pegiat lingkungan ini melepaskan berbagai satwa ke alam bebas. Ada seratusan jenis hewan yang mereka kumpulkan secara swadaya. Mulai dari berbagai jenis burung pemakan ulat dan belakang, musang, biawak dan ular sebagai musuh tikus.

“Ini murni swadaya masyarakat. Pertama untuk menekan populasi hama pertanian, hama belalang dan ulat. Nantinya diharapkan akan mengurangi insektisida yang digunakan masyarakat. Kami berupaya menekan populasi hama secara alami dengan melepaskan predator ini,” kata Pudin, sapaan akrab Ketua Kopling.

Menurutnya, pengendalian hama secara alami lebih efektif dibanding menggunakan bahan kimia. Selain harganya jauh lebih murah, juga tidak memberi efek samping terhadap lingkungan. Baiknya lagi, hasil pertanian jauh lebih berkualitas, karena tidak terkotaminasi oleh obat maupun racun.

Selain melepaskan hewan ke alam bebas, komunitas Kopling juga melibatkan diri dalam penjagaan satwa. Mereka telah memasang papan pengumuman larangan berburu pada sejumlah sudut desa. Aturan tersebut merujuk pada Peraturan Bupati Kediri tentang larangan berburu serta ancaman hukuman bagi pelanggarnya. 

“Alhamdulillah, seluruh masyarakat Desa Mlati sudah memiliki rasa kepedulian yang sama untuk ikut menjaga satwa. Sebenarnya hewan-hewan yang ada saat ini adalah sisa-sisa dari aksi perburuan liar. Sedikit demi sedikit kami berusaha untuk mengembalikan dengan aksi pelepasan seperti hari ini,” tambah Pudin.

Baca Juga : Cipta Karya Manfaatkan Botol Bekas jadi Filter Pengolahan Air Limbah 

 

Komunitas ini rutin berkeliling untuk menjaga. Mereka juga tidak segan untuk menegur, bahkan mengamankan pemburu yang masih nekat. Baik mereka yang memakai senapan, maupun jaring. Mereka juga memberikan sosialisasi secara lisan melalui pedagang di warung-warung kepada para pelanggannya.

“Hasilnya sudah bisa kita rasakan. Jika ke Desa Mlati akan menemui aneka burung di dahan-dahan. Ada jenis kacer, cendet, bahkan murai batu yang berkicauan. Bahkan, ada ayam hutan yang sering berkokok di pagi hari. Kelak kami harapkan bisa muncul sebuah Kampung Satwa. Sehingga bisa dinikmati oleh semua dan menjadi sarana edukasi bagi anak-anak,” harapnya.

Aksi pelepasan satwa tersebut akan dilakukan secara terus menerus. Tujuannya untuk menciptakan sebuah Kampung Satwa yang mampu mengundang kehadiran wisatawan untuk datang. Warga berharap adanya kepedulian dari instansi terkait untuk menambah keragaman jenis satwa yang nantinya bisa menjadi sarana edukasi bagi generasi penerus.